Wednesday, December 7, 2011

Membaptis dengan Roh Kudus (Markus 1:1-8)

Again, censored, although not as brutal as previously. Still, I decided to post the original article anyway.

Yohanes Pembaptis sering dikatakan sebagai pendahulu Yesus, sang Mesias. Ia mempersiapkan kedatangan Yesus dengan menyerukan pertobatan dan membaptis orang-orang. Orang-orang yang sudah dibaptis bersatu menjadi satu kelompok dan menantikan sang Mesias.

Akan tetapi, apakah yang dapat diharapkan dari Mesias itu?

Yohanes Pembaptis berkata, "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus" (ayat 8). Baptisan air merupakan awal yang disiapkan oleh Yohanes Pembaptis dimana orang-orang merespon dengan tindakan etis: menjadi anggota dan setia terhadap perkumpulan, mengucapkan kata-kata deklarasi, dan melakukan tindakan-tindakan terpuji. Namun, akan datang baptisan dengan Roh Kudus, suatu hal yang jauh lebih fundamental, dimana orang-orang tidak lagi memasuki suatu kelompok melainkan memasuki dirinya sendiri. Dalam baptisan Roh Kudus diperoleh suatu kesadaran baru akan sejatinya aku, apa sejatinya Allah, dan hubungan antara aku dan Allah itu. Dengan baptisan Roh Kudus, hal-hal yang sebelumnya (keanggotaan dan kesetiaan dalam suatu perkumpulan, pengucapan kata-kata deklarasi, dan rangkaian tindakan yang terpuji) baru menjadi berarti dengan sendirinya, sebab akhirnya mereka sungguh dijalankan dari suatu diri yang sadar.

Yohanes Pembaptis menyediakan suatu awal yang baik untuk menuju apa yang Mesias tawarkan. Maka dari itulah kita tidak boleh lupa untuk mengarahkan perhatian ke apa yang Mesias sudah tawarkan itu, suatu kesadaran diri yang baru. Sebagaimana apa yang dikatakan John Main OSB, seorang rahib Benedektin-pelopor gerakan Meditasi Kristiani tentang kesadaran diri tersebut, "Mengalami sebagaimana Yesus mengalami, menyadari sebagaimana Yesus menyadari, melihat sebagaimana Yesus melihat, memahami sebagaimana Yesus memahami, dan mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi." Pada akhirnya kita diajak untuk menjadi serupa dengan Mesias secara hakiki. (Hubertus Hosti Ps dan Hubertus Moerdianta Ps)

Tentang Membayar Pajak kepada Kaisar: Allah bukan Saingan Kaisar (Matius 22:15-22)

Since most of it got brutally censored, I decided to post the original article instead.

Dalam bacaan Injil hari ini, ketika murid-murid orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian bertanya pada Yesus tentang keharusan membayar pajak, Ia dihadapkan pada suatu jebakan yang sulit (ayat 15, 16). Jika Yesus menjawab pajak harus dibayarkan pada penjajah Romawi, orang-orang Farisi akan menganggap Yesus anti perjuangan kebebasan bangsa Yahudi - umat pilihan Allah. Jika Yesus menjawab sebaliknya, maka orang-orang Herodian yang pro pendudukan Romawilah yang akan menangkapNya. Tetapi, Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu dan memberikan jawaban yang membuat mereka heran, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (ayat 21)

Sekilas, jawaban tersebut hanya seperti menunjukkan kepiawaian Yesus keluar dari jebakan. Namun, jawaban itu sesungguhnya menunjukkan bagaimana Yesus mengangkat permasalahan yang hanya berkisar di pertentangan kewajiban ke perbedaan pengertian siapa itu Allah sebenarnya. Perbedaan pengertian itulah yang membuat pertanyaan yang diajukan pada Yesus seakan-akan dilematis padahal seharusnya tidak. Dilema dari pertanyaan tersebut berakar dari pengertian bahwa Allah dan Kaisar adalah dua hal yang berlawanan, kepatuhan pada aturan Kaisar dengan kesetiaan pada Allah. Namun bagi Yesus, memberikan apa yang wajib diberikan kepada Kaisar dan kepada Allah secara berbarengan tidak ditunjukkan sebagai sesuatu yang tidak mungkin (bdk ayat 21). Hal ini karena Allah yang diperkenalkan Yesus tidak sama dengan anggapan para penanyaNya. Allah bukanlah dewa kecil yang hanya memihak bangsa Yahudi dan memusuhi Kaisar Romawi karena menjajah bangsa pilihanNya. Allah adalah sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih dasariah, dan karenanya jauh lebih dekat dan melingkupi kita semua. Ia bukanlah saingan Kaisar, struktur pemerintahan, ataupun sekedar objek anggota dunia. Allah adalah sesuatu yang meresapi kita dan semesta, dan dengan demikian mengamini segala hal yang kita alami ketika hidup dalam semesta ini. Kesadaran yang demikian itu akan mengantar ke suatu perubahan fundamental dalam cara beriman. Sebagaimana Allah sendiri mengamini hidup dan dunia, orang yang beriman dengan cara yang demikian juga akan menganggap hidup sebagai sesuatu yang relevan, menerima pengalaman sakit dan penderitaan, serta tidak menolak hidup dan hiruk pikuknya di dunia. Semua karena baginya Allah adalah dasar dirinya dan semesta itu sendiri, Allah bukan saingan Kaisar. (Hubertus Hosti Ps dan Hubertus Moerdianta Ps)

Sunday, September 4, 2011

Kuasa untuk Mengampuni

The first of its kind, wrote it initially to assist my Dad, wasn't too excited when I found out that it was edited.
Oh well.
Mazel tov!



Changes:
- the title "Kuasa untuk Mengampuni" becomes "Menasihati Sesama Saudara"
- the sentence "Jadi kuasa tersebut bukan sesuatu yang dimiliki oleh orang-orang sembarangan" was supposed to end with "bahkan jika orang-orang tersebut memiliki kedudukan dalam Gereja"

Thursday, August 25, 2011

Apakah Nilai p Sebenarnya?

Dalam menentukan bermakna tidaknya suatu hasil penelitian, kita akan berhadapan dengan nilai p. Secara sangat praktis, nilai p dapat digambarkan sebagai suatu nilai yang akan dibandingkan dengan suatu batas yang sudah ditetapkan untuk menentukan bermakna tidaknya hasil penelitian kita secara statistik. Jika nilai p yang kita dapatkan lebih besar sama dengan batas, maka penelitian kita dinyatakan tidak bermakna secara statistika. Sebaliknya, jika nilai p yang kita dapatkan lebih kecil dari batas, maka penelitian kita dinyatakan bermakna secara statistika.

Tapi apakah sebenarnya nilai p itu?

Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, kita akan melihat terlebih dahulu dua pengertian yang populer meskipun kurang tepat, sebelum akhirnya membahas pengertian nilai p yang sebenarnya.

Wednesday, July 13, 2011

Dua Cerita Singkat yang Bagus

Dua cerita singkat yang bagus, setidaknya bagi saya, karena dapat menggambarkan dengan baik apa yang saya percayai.

Cerita I:
Suatu kali, Try Sutrisno memanggil Harmoko ke ruangannya. Di dalam, ia mencoba kecerdasan Harmoko dengan menanyakan pertanyaan berikut,
“Siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
Harmoko tidak tahu jawabannya sehingga ia mohon diri untuk beberapa saat.
Di luar, ia bertemu dengan Subrata dan menanyakan pertanyaan tersebut kepadanya.
“Siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
Subrata berpikir beberapa saat sebelum menjawab singkat, “Aku sendiri.”
Puas dengan jawaban Subrata, Harmoko masuk kembali ke ruangan Try Sutrisno.
“Sudah tahu jawabannya?” tanya Try Sutrisno.
“Sudah,” kata Harmoko.
“Jadi, siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
“Subrata,” jawab Harmoko.

(diimajinasikan kembali dari Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto)

Cerita II:
Dulu sekali, ada orang yang bertanya pada Yesus, “Rabi, siapakah yang tinggal di dalam Bapa dan Bapa tinggal di dalam dia?”
Yesus menjawab singkat, “Aku.”
Dua ribu tahun kemudian, seseorang bertanya kepada seorang Kristen, “Siapakah yang tinggal di dalam Bapa dan Bapa tinggal di dalam dia?”
Orang Kristen itu menjawab, “Yesus.”

(diimajinasikan kembali dari tulisan H. Moerdianta Ps)

Wednesday, June 8, 2011

Filsafat Ketuhanan - Tugas Akhir

I. Definisi:

1) Monisme: paham bahwa segala sesuatu adalah satu (bukan hanya kesatuan) dan kemajemukan adalah ilusi atau emanasi dari yang satu itu.

Dualisme: paham bahwa segala sesuatu berdasar atas dua prinsip yang saling tidak bergantung satu sama lain dan tidak mewujudkan keselarasan (saling berlawanan, berkonflik).

Panteisme: paham bahwa Yang Ilahi bersemayam dalam segala-galanya, sehingga Yang Ilahi bersifat imanen saja dan bukan transenden, substantif dan bukan personal (Allah adalah alam dan sebaliknya).

Deisme: paham bahwa Allah menciptakan dunia lalu meninggalkannya (karena Allah itu sempurna maka dunia yang dibuatNya dapat berjalan sendiri dengan baik seperti halnya seorang pembuat jam sempurna dan jam sempurna yang dibuatnya), atau dengan kata lain Allah menciptakan harmonia praestabilisata (keselarasan yang sejak semula sudah dipastikan), sehingga dengan demikian campur tangan Allah tidak ada (mukjizat tidak ada dan doa tidak ada gunanya).

2) Nihilisme: paham yang menegasikan satu atau lebih aspek-aspek hidup yang dipercayai dan dianggap bermakna, contohnya penolakan bahwa hidup memiliki makna dan tujuan, nilai moral itu ada, atau bahwa ilmu pengetahuan itu mungkin.

Agnostisisme: paham yang tidak mengakui rasionalitas wacana Tuhan, atau bahwa pernyataan tentang Tuhan dapat dihubungkan dengan klaim kebenaran, atau bahwa keagamaan dapat dipastikan secara objektif, sehingga keyakinan religius adalah kecenderungan pribadi yang tidak usah dibicarakan.

Materialisme: paham yang menganggap bahwa segala sesuatu adalah materi, tidak ada yang nyata selain materi, dan semua fenomena adalah hasil dari interaksi materi.

3) Kontingen: tidak dapat berdiri sendiri untuk menjadi nyata atau bernilai, membutuhkan yang lain di luar dirinya, terkondisi, bersyarat.

Mutlak: berdiri sendiri untuk menjadi nyata atau bernilai, tidak membutuhkan yang lain di luar dirinya, tidak terkondisi, tidak bersyarat.

Transenden: melampaui alam ciptaan atau yang terbatas.

Imanen: ada di mana-mana di dalam dunia, meresapi apapun yang ada.

Transendental: syarat kemungkinan suatu pengetahuan.

4) Pemakaian bahasa ekuivok:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang berbeda.

Pemakaian bahasa univok:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang sama.

Pemakaian bahasa analog:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang tidak sama sekali sama dan tidak sama sekali berbeda.

Thursday, April 14, 2011

Gayus, Malinda, dan Bukan Übermensch

Dalam tulisannya di rubrik Opini Kompas 9 April 2011, Toto Suparto menyatakan bahwa Gayus Tambunan dan Malinda Dee adalah Übermenschnya Nietzsche.

Pernyataan tersebut ceroboh dan jauh dari kebenaran.

Jika tujuannya adalah untuk mengaitkan Gayus dan Malinda dengan filsafat Nietzsche, justru akan lebih baik jika mereka dianggap Bukan Übermensch.

Tuhan yang Tidak Sama

Kita menyembah Tuhan yang sama. Pernyataan itu biasa penulis dengar tiap kali ada perselisihan atas nama agama. Yang mengucapkannya selalu orang-orang baik, yang berusaha mengembalikan wajah seorang saudara di benak orang yang bertikai saat melihat musuhnya yang berbeda agama. Tapi sebaik-baiknya pernyataan itu, ada juga bahaya yang terkandung di dasar asumsinya. Masalah dapat muncul saat disadari bahwa Tuhan memang tidak sama.

Friday, April 1, 2011

Filsafat Ketuhanan – SAP 2

1. Apa inti kritik agama Feuerbach?

Kritik Feuerbach berawal dari kritik terhadap pemikiran Hegel. Menurut Feuerbach, Hegel seakan-akan mengatakan bahwa yang nyata adalah Allah (roh semesta), sedangkan manusia hanyalah wayangnya. Padahal yang nyata dan kelihatan adalah manusia, bukan Allah. Allah adalah pikiran manusia, bukan sebaliknya. Inti dari kritik agama Feuerbach bersumber pada pengandaian ini, bahwa yang nyata adalah pengalaman inderawi dan bukan pikiran spekulatif.
Jadi, alih-alih Allah menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan Allah. Allah dan agama adalah proyeksi hakekat manusia sendiri. Namun, manusia lupa pada kenyataan ini. Yang sebenarnya angan-angan, dianggap memiliki eksistensinya sendiri yang mandiri, sehingga manusia lalu menjadi takut dan menyembahnya. Jadi saat manusia menyembah Allah, sebenarnya ia sedang menyembah cerminan hakekatnya yang tidak ia sadari.
Dengan demikian, sesungguhnya agama menunjukkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Dalam agama, hakekat manusia dipisahkan dari dirinya dan diobjektifkan, dipandang, dan dipuja sebagai makhluk lain (hakekat ilahi).

2. Apa yang mau dikatakan Freud dengan menamakan agama sebagai ilusi infantil?

Dalam agama, manusia percaya pada dewa-dewa yang akan melindunginya dari segala kesusahan. Akan tetapi, sesungguhnya ini adalah sebuah ilusi karena dewa-dewa tidak ada. Manusia yakin bahwa ia dilindungi dewa-dewa bukan karena didukung kenyataan, tetapi karena ia menginginkannya supaya begitu.
Mengharapkan dengan naif agar apa yang diinginkan terpenuhi adalah ciri khas anak kecil. Anak kecil menghadapi masalah-masalah nyata tidak secara dewasa (dengan menerima, mencari jalan dengan kekuatan sendiri), melainkan dengan pikiran yang penuh harap.
Begitulah yang terjadi dalam agama. Dalam agama, manusia menghadapi masalah, tidak dengan dewasa, melainkan dengan pikiran penuh harap akan dewa-dewa yang akan menolong. Dalam agama, manusia berpegang pada ilusi akan dewa-dewa secara kekanak-kakanakan, sebagai sarana menghadapi masalah-masalah nyata. Oleh sebab itulah agama disebut sebagai ilusi infantil.

3. Mengapa Sartre berpendapat bahwa manusia tidak bebas kalau ada Allah?

Manusia tidak bebas kalau ada Allah karena dengan demikian kodrat manusia sudah ditentukan.
Sartre membedakan dua macam kenyataan, yang pertama berada pada dirinya sendiri dan yang kedua berada bagi dirinya sendiri. Manusia adalah pengada yang berada bagi dirinya sendiri. Eksistensinya mendahului esensinya, yang berarti ia tidak memiliiki suatu kodrat yang pasti untuk menentukan dirinya. Manusia benar-benar bebas dan tidak ditentukan. Dalam proyeksi diri melalui kebebasannya itulah, manusia sungguh menjadi.
Jika ada Allah, maka manusia kehilangan semua itu. Manusia akhirnya memiliki kodrat, suatu kerangka acuan atas mana ia diciptakan. Ia tidak dapat lagi dengan kebebasan totalnya menentukan kodratnya sendiri. Manusia berhenti menjadi pengada bagi dirinya sendiri dan menjadi pengada pada dirinya sendiri.

Filsafat Ketuhanan – SAP 1

1. Apa perbedaan antara filsafat ketuhanan dan teologi?

Teologi berbicara tentang iman dan Tuhan dari suatu sudut tertentu, yakni wahyu. Apa yang diimani dan dijalani dalam hidup menurut iman dilihat kesesuaiannya dengan wahyu sebagai sumber iman tersebut. Demikian juga halnya dengan Tuhan.
Wahyu adalah sumber kebenaran dalam teologi. Karena itu, setiap agama memiliki teologinya sendiri, dan setiap refleksi dan diskursus secara teologis hanya terjadi dalam orang-orang yang sudah menerima wahyu tertentu tersebut sebagai sumber kebenaran.

Filsafat ketuhanan berbicara tentang iman dan Tuhan tidak dari sudut-sudut tertentu, melainkan secara mendasar. Iman dan Tuhan dilihat dengan menggunakan nalar. Iman, misalnya, dengan demikian dapat dilihat dari sudut konsistensi logis antara ajaran-ajaran di dalam agama tersebut, kesesuaian ajaran dengan pengetahuan tentang dunia dan masyarakat, kemudian juga dapat dilihat dari sudut pengalaman batin. Demikian juga Tuhan. Kepercayaan tentang Tuhan dibicarakan secara rasional.
Nalar adalah sumber kebenaran dalam filsafat ketuhanan. Karena itu, refleksi dan diskursus dapat terjadi di antara orang-orang tanpa dibatasi keperluan mempercayai kebenaran suatu wahyu tertentu.

2. Apa yang dimaksud dengan perubahan dari paradigma teosentris ke paradigma antroposentris?

Perubahan paradigma teosentris ke paradigma antroposentris berarti perubahan suatu kerangka pikir dimana sebelumnya segala-galanya dipandang dari sudut Allah yang menciptakan, mengarahkan, mempertahankan, dan menyelamatkan manusia (theos = Allah, dan centrum = pusat), menjadi dari sudut manusia (anthropos = manusia), sehingga bahkan kemudian Tuhan pun dipertanyakan dari sudut manusia.
Perubahan ini terjadi pada abad ke-13 sampai dengan abad ke-17, dan ditandai dengan berbagai peristiwa. Di abad pertengahan, perubahan paradigma ini diawali dengan persaingan antara Kaisar dan Paus dan diterimanya filsafat Aristoteles sebagai kerangka filsafat utama Eropa Barat, yang memisahkan wilayah ‘dunia’ dan ‘ilahi’. Kemudian pada abad ke-14, cita-cita kemanusiaan Romawi dan Yunani pra-Kristiani kembali menyeruak dan mulai menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, menggeser perspektif budaya yang ditentukan agama. Lalu, pada jaman Renaissance, kesadaran akan subjektivitas mencuat, ironisnya, di tengah kebangkitan kembali agama. Contohnya adalah Martin Luther yang melawan dominasi Gereja atas kehidupan religius umat dan menegaskan setiap orang berhak memahami sendiri Kitab Suci. Untuk pertama kali, manusia menjadi pusat dari keselamatannya sendiri.

3. Apa yang dimaksud dengan Deisme?

Deisme adalah paham dimana Allah menciptakan alam semesta berikut hukum-hukumnya lalu membiarkannya berjalan sendiri. Dengan demikian, Deisme mengandaikan harmonia praestabilisata, keselarasan yang sejak awal dipastikan. Allah seumpama pembuat jam yang sempurna, yang tidak perlu mengutak-atik jamnya lagi secara berkala setelah diciptakan karena jamnya sudah sempurna sejak dibuat dan tidak memerlukan diriNya untuk berjalan.
Implikasinya adalah:
-    hilangnya kegunaan berdoa karena segala sesuatu, termasuk situasi saat ini, sudah sempurna dan baik adanya, dan juga karena Allah tidak terlibat lagi dalam alam semesta ini
-    tidak adanya mukjizat karena alasan serupa, Allah tidak terlibat dan dekat lagi
-    tidak ada wahyu, juga karena Allah tidak terlibat lagi
Deisme membuka jalan untuk ateisme, karena jika Allah sudah dicoret dari hiruk pikuk alam semesta yang sekarang, tidak ada alasan kenapa peranNya di permulaan harus dipertahankan (dalam ateisme peran Allah dicoret seluruhnya).

4. Apa tiga tahap perkembangan intelektual manusia menurut Comte?

-    Tahap I: tahap teologis
Pada tahap ini, gejala-gejala alam dijelaskan sebagai hasil tindakan dewa atau kekuatan-kekuatan adi-duniawi lain, hasilnya adalah mitos dan agama.

-    Tahap II: tahap metafisik
Pada tahap ini, gejala-gejala alam dijelaskan sebagai hasil konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak spekulasi filsafat, hasilnya adalah filsafat.

-    Tahap III: tahap positivisme
Pada tahap ini, gejala-gejala alam dijelaskan secara ilmiah, diamati dan ditemukan hubungannya dalam metode positif, hasilnya adalah ilmu pengetahuan.

Tuesday, February 15, 2011

Immanuel Kant, Filsuf di Persimpangan Jalan

Rasionalisme dan empirisme
Sebelum Kant, terdapat dua mazhab besar dalam filsafat yang saling bertentangan, yaitu rasionalisme dan empirisme. Keduanya berusaha mencari tahu dari mana sejatinya pengetahuan berasal. Rasionalisme menjawab bahwa sumbernya adalah rasio, sedangkan empirisme menjawab sumbernya adalah pengalaman.

Rasionalisme menyatakan bahwa dalam memperoleh pengetahuan, manusia cukup menggunakan rasio, dan bukan pengalaman. Hal ini disebabkan rasio mampu memberikan kepastian yang tidak bisa dicapai pengalaman (hasil dari aktivitas persepsi inderawi bisa menipu). Contoh paling jelasnya adalah matematika. Dalam matematika, pengalaman tidak diperlukan dalam memperoleh pengetahuan. Manusia dapat memperoleh pengetahuan hanya dengan mengandalkan rasionya saja. Manfaat pengalaman hanyalah untuk mengafirmasi sesuatu yang memang sudah diketahui rasio. Jadi, pengalaman adalah sesuatu yang datang kemudian dan tidak menghasilkan pengetahuan itu sendiri.

Sejarah Filsafat Yunani

Herakleitos
Ada
Herakleitos berbicara tentang kosmos yang merupakan suatu kesatuan. Ia menunjukkan hal tersebut, beserta juga dengan sifat spesifiknya melalui berbagai fragmen.
Dalam fragmen-fragmen DK 22 B1 dan 50, kesatuan tersebut ditunjukkan melalui logos yang bisa juga berarti penyebab utama segala sesuatu. Dalam hal ini, semua hal ditopang oleh logos. Ia menjadi prinsip dari semua hal, sesuatu yang sangat umum, dasariah, dan selalu hadir di dalam segala adaan dan pergerakannya meskipun tidak mesti dikenali (kaum Stoik, yang menganggap Herakleitos sebagai pendahulunya mengartikan logos sebagai prinsip kausal rasional yang menyerapi dan mengatur dunia).1
Selain diatur oleh logos, Herakleitos juga menggambarkan kesatuan dunia sebagai api yang dinamis. Segala fenomena disatukan melalui api yang bersifat seperti emas atau alat tukar. Hal ini ditunjukkan melalui fragmen-fragmen DK 22 B30, 90, serta 31a dan b.
Pemilihan Herakleitos atas api mungkin juga dikarenakan sifatnya yang dinamis dan menghasilkan perubahan yang mudah terlihat ketika menjadikan cahaya dan panas dari benda yang dibakarnya.2
Kemudian, dalam fragmen-fragmen DK 22 B91, 49a, dan 12, ditunjukkan bahwa segala sesuatu selalu berada dalam gerak perubahan. Oleh karena itulah, kita tidak dapat menginjakkan kaki di sungai yang sama dua kali, karena bukan hanya sungainya yang berubah, tetapi kitanya juga sudah berubah.3
Dan terakhir, kesatuan kosmos digambarkan Herakleitos justru melalui perlawanan. Dalam hal yang berlawanan ditemukan kesatuan dan harmoni (DK 22 B61, 67, 60, 9, dan 111). Dalam fragmen DK 22 B61, misalnya, dituliskan tentang air laut yang dapat membunuh maupun menghidupkan. Kedua sifat yang bertentangan ini sebenarnya membicarakan tentang hal yang satu, yang dalam perspektif logos (yang lebih tinggi) memang akan tampak sebagai satu. Dengan demikian, perlawanan pun menunjukkan kesatuan kosmos, kesatuan yang di dalamnya ada harmoni dari ketegangan, seperti harmoni senar yang tegang ditarik dari kedua sisi (DK 22 B51 dan 80).4