Monday, May 14, 2012
Wednesday, December 7, 2011
Membaptis dengan Roh Kudus (Markus 1:1-8)
Again, censored, although not as brutal as previously. Still, I decided to post the original article anyway.
Yohanes Pembaptis sering dikatakan sebagai pendahulu Yesus, sang Mesias. Ia mempersiapkan kedatangan Yesus dengan menyerukan pertobatan dan membaptis orang-orang. Orang-orang yang sudah dibaptis bersatu menjadi satu kelompok dan menantikan sang Mesias.
Akan tetapi, apakah yang dapat diharapkan dari Mesias itu?
Yohanes Pembaptis berkata, "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus" (ayat 8). Baptisan air merupakan awal yang disiapkan oleh Yohanes Pembaptis dimana orang-orang merespon dengan tindakan etis: menjadi anggota dan setia terhadap perkumpulan, mengucapkan kata-kata deklarasi, dan melakukan tindakan-tindakan terpuji. Namun, akan datang baptisan dengan Roh Kudus, suatu hal yang jauh lebih fundamental, dimana orang-orang tidak lagi memasuki suatu kelompok melainkan memasuki dirinya sendiri. Dalam baptisan Roh Kudus diperoleh suatu kesadaran baru akan sejatinya aku, apa sejatinya Allah, dan hubungan antara aku dan Allah itu. Dengan baptisan Roh Kudus, hal-hal yang sebelumnya (keanggotaan dan kesetiaan dalam suatu perkumpulan, pengucapan kata-kata deklarasi, dan rangkaian tindakan yang terpuji) baru menjadi berarti dengan sendirinya, sebab akhirnya mereka sungguh dijalankan dari suatu diri yang sadar.
Yohanes Pembaptis menyediakan suatu awal yang baik untuk menuju apa yang Mesias tawarkan. Maka dari itulah kita tidak boleh lupa untuk mengarahkan perhatian ke apa yang Mesias sudah tawarkan itu, suatu kesadaran diri yang baru. Sebagaimana apa yang dikatakan John Main OSB, seorang rahib Benedektin-pelopor gerakan Meditasi Kristiani tentang kesadaran diri tersebut, "Mengalami sebagaimana Yesus mengalami, menyadari sebagaimana Yesus menyadari, melihat sebagaimana Yesus melihat, memahami sebagaimana Yesus memahami, dan mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi." Pada akhirnya kita diajak untuk menjadi serupa dengan Mesias secara hakiki. (Hubertus Hosti Ps dan Hubertus Moerdianta Ps)
Tentang Membayar Pajak kepada Kaisar: Allah bukan Saingan Kaisar (Matius 22:15-22)
Since most of it got brutally censored, I decided to post the original article instead.
Dalam bacaan Injil hari ini, ketika murid-murid orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian bertanya pada Yesus tentang keharusan membayar pajak, Ia dihadapkan pada suatu jebakan yang sulit (ayat 15, 16). Jika Yesus menjawab pajak harus dibayarkan pada penjajah Romawi, orang-orang Farisi akan menganggap Yesus anti perjuangan kebebasan bangsa Yahudi - umat pilihan Allah. Jika Yesus menjawab sebaliknya, maka orang-orang Herodian yang pro pendudukan Romawilah yang akan menangkapNya. Tetapi, Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu dan memberikan jawaban yang membuat mereka heran, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (ayat 21)
Sekilas, jawaban tersebut hanya seperti menunjukkan kepiawaian Yesus keluar dari jebakan. Namun, jawaban itu sesungguhnya menunjukkan bagaimana Yesus mengangkat permasalahan yang hanya berkisar di pertentangan kewajiban ke perbedaan pengertian siapa itu Allah sebenarnya. Perbedaan pengertian itulah yang membuat pertanyaan yang diajukan pada Yesus seakan-akan dilematis padahal seharusnya tidak. Dilema dari pertanyaan tersebut berakar dari pengertian bahwa Allah dan Kaisar adalah dua hal yang berlawanan, kepatuhan pada aturan Kaisar dengan kesetiaan pada Allah. Namun bagi Yesus, memberikan apa yang wajib diberikan kepada Kaisar dan kepada Allah secara berbarengan tidak ditunjukkan sebagai sesuatu yang tidak mungkin (bdk ayat 21). Hal ini karena Allah yang diperkenalkan Yesus tidak sama dengan anggapan para penanyaNya. Allah bukanlah dewa kecil yang hanya memihak bangsa Yahudi dan memusuhi Kaisar Romawi karena menjajah bangsa pilihanNya. Allah adalah sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih dasariah, dan karenanya jauh lebih dekat dan melingkupi kita semua. Ia bukanlah saingan Kaisar, struktur pemerintahan, ataupun sekedar objek anggota dunia. Allah adalah sesuatu yang meresapi kita dan semesta, dan dengan demikian mengamini segala hal yang kita alami ketika hidup dalam semesta ini. Kesadaran yang demikian itu akan mengantar ke suatu perubahan fundamental dalam cara beriman. Sebagaimana Allah sendiri mengamini hidup dan dunia, orang yang beriman dengan cara yang demikian juga akan menganggap hidup sebagai sesuatu yang relevan, menerima pengalaman sakit dan penderitaan, serta tidak menolak hidup dan hiruk pikuknya di dunia. Semua karena baginya Allah adalah dasar dirinya dan semesta itu sendiri, Allah bukan saingan Kaisar. (Hubertus Hosti Ps dan Hubertus Moerdianta Ps)
Sunday, September 4, 2011
Kuasa untuk Mengampuni
The first of its kind, wrote it initially to assist my Dad, wasn't too excited when I found out that it was edited.
Oh well.
Mazel tov!
Changes:
- the title "Kuasa untuk Mengampuni" becomes "Menasihati Sesama Saudara"
- the sentence "Jadi kuasa tersebut bukan sesuatu yang dimiliki oleh orang-orang sembarangan" was supposed to end with "bahkan jika orang-orang tersebut memiliki kedudukan dalam Gereja"
Oh well.
Mazel tov!
Changes:
- the title "Kuasa untuk Mengampuni" becomes "Menasihati Sesama Saudara"
- the sentence "Jadi kuasa tersebut bukan sesuatu yang dimiliki oleh orang-orang sembarangan" was supposed to end with "bahkan jika orang-orang tersebut memiliki kedudukan dalam Gereja"
Thursday, August 25, 2011
Apakah Nilai p Sebenarnya?
Dalam menentukan bermakna tidaknya suatu hasil penelitian, kita akan berhadapan dengan nilai p. Secara sangat praktis, nilai p dapat digambarkan sebagai suatu nilai yang akan dibandingkan dengan suatu batas yang sudah ditetapkan untuk menentukan bermakna tidaknya hasil penelitian kita secara statistik. Jika nilai p yang kita dapatkan lebih besar sama dengan batas, maka penelitian kita dinyatakan tidak bermakna secara statistika. Sebaliknya, jika nilai p yang kita dapatkan lebih kecil dari batas, maka penelitian kita dinyatakan bermakna secara statistika.
Tapi apakah sebenarnya nilai p itu?
Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, kita akan melihat terlebih dahulu dua pengertian yang populer meskipun kurang tepat, sebelum akhirnya membahas pengertian nilai p yang sebenarnya.
Tapi apakah sebenarnya nilai p itu?
Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, kita akan melihat terlebih dahulu dua pengertian yang populer meskipun kurang tepat, sebelum akhirnya membahas pengertian nilai p yang sebenarnya.
Wednesday, July 13, 2011
Dua Cerita Singkat yang Bagus
Dua cerita singkat yang bagus, setidaknya bagi saya, karena dapat menggambarkan dengan baik apa yang saya percayai.
Cerita I:
Suatu kali, Try Sutrisno memanggil Harmoko ke ruangannya. Di dalam, ia mencoba kecerdasan Harmoko dengan menanyakan pertanyaan berikut,
“Siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
Harmoko tidak tahu jawabannya sehingga ia mohon diri untuk beberapa saat.
Di luar, ia bertemu dengan Subrata dan menanyakan pertanyaan tersebut kepadanya.
“Siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
Subrata berpikir beberapa saat sebelum menjawab singkat, “Aku sendiri.”
Puas dengan jawaban Subrata, Harmoko masuk kembali ke ruangan Try Sutrisno.
“Sudah tahu jawabannya?” tanya Try Sutrisno.
“Sudah,” kata Harmoko.
“Jadi, siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
“Subrata,” jawab Harmoko.
(diimajinasikan kembali dari Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto)
Cerita II:
Dulu sekali, ada orang yang bertanya pada Yesus, “Rabi, siapakah yang tinggal di dalam Bapa dan Bapa tinggal di dalam dia?”
Yesus menjawab singkat, “Aku.”
Dua ribu tahun kemudian, seseorang bertanya kepada seorang Kristen, “Siapakah yang tinggal di dalam Bapa dan Bapa tinggal di dalam dia?”
Orang Kristen itu menjawab, “Yesus.”
(diimajinasikan kembali dari tulisan H. Moerdianta Ps)
Cerita I:
Suatu kali, Try Sutrisno memanggil Harmoko ke ruangannya. Di dalam, ia mencoba kecerdasan Harmoko dengan menanyakan pertanyaan berikut,
“Siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
Harmoko tidak tahu jawabannya sehingga ia mohon diri untuk beberapa saat.
Di luar, ia bertemu dengan Subrata dan menanyakan pertanyaan tersebut kepadanya.
“Siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
Subrata berpikir beberapa saat sebelum menjawab singkat, “Aku sendiri.”
Puas dengan jawaban Subrata, Harmoko masuk kembali ke ruangan Try Sutrisno.
“Sudah tahu jawabannya?” tanya Try Sutrisno.
“Sudah,” kata Harmoko.
“Jadi, siapa anak ibuku yang bukan saudaraku?”
“Subrata,” jawab Harmoko.
(diimajinasikan kembali dari Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto)
Cerita II:
Dulu sekali, ada orang yang bertanya pada Yesus, “Rabi, siapakah yang tinggal di dalam Bapa dan Bapa tinggal di dalam dia?”
Yesus menjawab singkat, “Aku.”
Dua ribu tahun kemudian, seseorang bertanya kepada seorang Kristen, “Siapakah yang tinggal di dalam Bapa dan Bapa tinggal di dalam dia?”
Orang Kristen itu menjawab, “Yesus.”
(diimajinasikan kembali dari tulisan H. Moerdianta Ps)
Wednesday, June 8, 2011
Filsafat Ketuhanan - Tugas Akhir
I. Definisi:
1) Monisme: paham bahwa segala sesuatu adalah satu (bukan hanya kesatuan) dan kemajemukan adalah ilusi atau emanasi dari yang satu itu.
Dualisme: paham bahwa segala sesuatu berdasar atas dua prinsip yang saling tidak bergantung satu sama lain dan tidak mewujudkan keselarasan (saling berlawanan, berkonflik).
Panteisme: paham bahwa Yang Ilahi bersemayam dalam segala-galanya, sehingga Yang Ilahi bersifat imanen saja dan bukan transenden, substantif dan bukan personal (Allah adalah alam dan sebaliknya).
Deisme: paham bahwa Allah menciptakan dunia lalu meninggalkannya (karena Allah itu sempurna maka dunia yang dibuatNya dapat berjalan sendiri dengan baik seperti halnya seorang pembuat jam sempurna dan jam sempurna yang dibuatnya), atau dengan kata lain Allah menciptakan harmonia praestabilisata (keselarasan yang sejak semula sudah dipastikan), sehingga dengan demikian campur tangan Allah tidak ada (mukjizat tidak ada dan doa tidak ada gunanya).
2) Nihilisme: paham yang menegasikan satu atau lebih aspek-aspek hidup yang dipercayai dan dianggap bermakna, contohnya penolakan bahwa hidup memiliki makna dan tujuan, nilai moral itu ada, atau bahwa ilmu pengetahuan itu mungkin.
Agnostisisme: paham yang tidak mengakui rasionalitas wacana Tuhan, atau bahwa pernyataan tentang Tuhan dapat dihubungkan dengan klaim kebenaran, atau bahwa keagamaan dapat dipastikan secara objektif, sehingga keyakinan religius adalah kecenderungan pribadi yang tidak usah dibicarakan.
Materialisme: paham yang menganggap bahwa segala sesuatu adalah materi, tidak ada yang nyata selain materi, dan semua fenomena adalah hasil dari interaksi materi.
3) Kontingen: tidak dapat berdiri sendiri untuk menjadi nyata atau bernilai, membutuhkan yang lain di luar dirinya, terkondisi, bersyarat.
Mutlak: berdiri sendiri untuk menjadi nyata atau bernilai, tidak membutuhkan yang lain di luar dirinya, tidak terkondisi, tidak bersyarat.
Transenden: melampaui alam ciptaan atau yang terbatas.
Imanen: ada di mana-mana di dalam dunia, meresapi apapun yang ada.
Transendental: syarat kemungkinan suatu pengetahuan.
4) Pemakaian bahasa ekuivok:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang berbeda.
Pemakaian bahasa univok:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang sama.
Pemakaian bahasa analog:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang tidak sama sekali sama dan tidak sama sekali berbeda.
1) Monisme: paham bahwa segala sesuatu adalah satu (bukan hanya kesatuan) dan kemajemukan adalah ilusi atau emanasi dari yang satu itu.
Dualisme: paham bahwa segala sesuatu berdasar atas dua prinsip yang saling tidak bergantung satu sama lain dan tidak mewujudkan keselarasan (saling berlawanan, berkonflik).
Panteisme: paham bahwa Yang Ilahi bersemayam dalam segala-galanya, sehingga Yang Ilahi bersifat imanen saja dan bukan transenden, substantif dan bukan personal (Allah adalah alam dan sebaliknya).
Deisme: paham bahwa Allah menciptakan dunia lalu meninggalkannya (karena Allah itu sempurna maka dunia yang dibuatNya dapat berjalan sendiri dengan baik seperti halnya seorang pembuat jam sempurna dan jam sempurna yang dibuatnya), atau dengan kata lain Allah menciptakan harmonia praestabilisata (keselarasan yang sejak semula sudah dipastikan), sehingga dengan demikian campur tangan Allah tidak ada (mukjizat tidak ada dan doa tidak ada gunanya).
2) Nihilisme: paham yang menegasikan satu atau lebih aspek-aspek hidup yang dipercayai dan dianggap bermakna, contohnya penolakan bahwa hidup memiliki makna dan tujuan, nilai moral itu ada, atau bahwa ilmu pengetahuan itu mungkin.
Agnostisisme: paham yang tidak mengakui rasionalitas wacana Tuhan, atau bahwa pernyataan tentang Tuhan dapat dihubungkan dengan klaim kebenaran, atau bahwa keagamaan dapat dipastikan secara objektif, sehingga keyakinan religius adalah kecenderungan pribadi yang tidak usah dibicarakan.
Materialisme: paham yang menganggap bahwa segala sesuatu adalah materi, tidak ada yang nyata selain materi, dan semua fenomena adalah hasil dari interaksi materi.
3) Kontingen: tidak dapat berdiri sendiri untuk menjadi nyata atau bernilai, membutuhkan yang lain di luar dirinya, terkondisi, bersyarat.
Mutlak: berdiri sendiri untuk menjadi nyata atau bernilai, tidak membutuhkan yang lain di luar dirinya, tidak terkondisi, tidak bersyarat.
Transenden: melampaui alam ciptaan atau yang terbatas.
Imanen: ada di mana-mana di dalam dunia, meresapi apapun yang ada.
Transendental: syarat kemungkinan suatu pengetahuan.
4) Pemakaian bahasa ekuivok:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang berbeda.
Pemakaian bahasa univok:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang sama.
Pemakaian bahasa analog:
Pemakaian bahasa yang sama dalam arti yang tidak sama sekali sama dan tidak sama sekali berbeda.
Subscribe to:
Posts (Atom)



